perdagangan bebas antara indonesia dan china 2014

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sebagian besar produk impor asal Cina ternyata belum menggunakan tarif preferensi berdasarkan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). “Masih 70 persen impor pakai tarif normal,” kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar kemarin.

Artinya, menurut dia, semua permasalahan industri dalam negeri bukan diakibatkan oleh pengenaan tarif impor untuk produk Cina yang rendah. “Persoalannya bukan ACFTA, tetapi karena harga barang Cina sudah murah sekali,” ujarnya. Bila produsen Cina menggunakan tarif preferensi, tentu harga produk bakal lebih murah lagi.

Hal ini menanggapi keluhan beberapa industri yang merasa dirugikan karena penjualannya anjlok akibat membanjirnya produk impor asal Cina setelah tarif impor turun sesudah ACFTA berlaku efektif. Industri yang tertekan di antaranya adalah industri tekstil, alas kaki, mainan anak, dan baja.

Impor dari Cina memang melonjak dan mengakibatkan defisit perdagangan Indonesia dengan Cina membesar setahun setelah ACFTA berjalan. Tahun lalu defisit perdagangan Indonesia mencapai US$ 4,73 miliar, lebih besar ketimbang tahun sebelumnya yang hanya US$ 2,5 miliar.

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri Kementerian Perindustrian, Arryanto Sagala, menyatakan bakal ada tambahan usulan baru penerapan wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) pada 21 jenis produk. Hal tersebut untuk memproteksi produk dalam negeri dari derasnya aliran produk impor serupa dari Cina.

“Kalau mereka (Cina) dipaksa memenuhi SNI, pasti produknya tidak bisa dijual murah. Produk dalam negeri bisa bersaing,” kata Arryanto.

Ke-21 produk yang dikenai wajib SNI itu akan menambah panjang daftar 68 produk berstandar serupa. Produk-produk itu di antaranya meliputi sektor industri elektronik, industri maritim dan kedirgantaraan, produk tekstil, produk aneka, serta produk baja.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Suryo Bambang Sulisto meminta agar wajib SNI diterapkan lebih selektif dan diprioritaskan pada produk yang diserbu oleh produk Cina.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan sektor tekstil siap dengan penerapan wajib SNI. “Biasa kami lakukan terutama saat menerima pesanan ekspor ke Eropa dan Jepang. Standar kami sesuai dengan standar mereka yang tinggi,” kata Ade.

Ia berharap, ke depan, pemerintah memperketat penerapan wajib SNI untuk produk impor. Sebab, meskipun SNI bertujuan menekan impor dan meningkatkan daya saing, kenyataannya justru industri lokal yang dikejar-kejar untuk patuh SNI tapi importir kurang diawasi. Akibatnya, industri lokal yang tertekan.

Kementerian Keuangan berkomitmen mencegah penyelundupan dengan memperketat impor produk dari Cina. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai akan meningkatkan early warning system dengan mendata produk impor yang beredar di pasar lokal dengan mengecek surat keterangan asal (SKA) tiap produk. Untuk mengantisipasi praktek dumping, pemerintah bakal memberlakukan bea masuk antidumping.

Menurut pendapat saya mengenai persaingan perdagangan antara indonesia dan china khususnya dalam kerja sama antara kedua negara tersebut sama-sama menguntungkan, selain itu setiap tahunnya perdagangannya semakin meningkat.

Tetapi dalam pasar bebas ada keuntungan dan kerugiannya, keuntungannya banyak produksi barang dari indonesia semakin meluas di china, tapi kerugiannya karena murahnya dan bervariasi produk-produk china yang masuk ke indonesia akan membuat indonesia banyak mengalami kerugian.

Sikap kita tentang persaingan perdagangan ini, pemerintah harus mensosialisasikan cintai produk dalam negeri kepada masyarakat selain produk yang dihasilkan berkualitas dan itu sangat membantu meningkatkan pendapatan negara,dan jika pemerintah tidak mampu berkompetisi dengan China untuk beberapa sector perdagangan, maka strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengeluarkan kebijakan safeguard yaitu pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP).

Sumber:   http://www.tempo.co/read/news/2011/04/15/090327644/Banjir-Produk-Cina-Bukan-Karena-Tarif-Rendah

By riyantobbs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s